In Course

Belajar Ponzi!!

Saat ini lagi heboh-hebohnya tentang salah satu travel umrah yang di-suspect menggunakan Ponzi Scheme dalam menjalankan program promonya. Travel tersebut dihimbau oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk memberhentikan program promonya, apa dan bagaimana dampaknya terhadap keseluruhan bisnis travel tersebut tentulah bukan urusan kita. Yang perlu menjadi perhatian kita justru apa sebenarnya skema ponzi ini, supaya kita gak terjebak kedalamnya, apalagi berinvestasi dengan menggunakan skema tersebut.

Saya masih ingat, waktu sedang ambil sertifikasi Financial Plannerlecturer saya sering kali menyebut-nyebut tentang Ponzi Scheme, kebetulan sekali waktu itu sedang ada kasus besar di Malaysia yang melibatkan perusahaan yang menyebut dirinya sebagai perusahaan investasi emas. Perusahaan tersebut memiliki modal yang cukup untuk mengeluarkan sertifikat emas, dengan janji-janji return yang cukup tinggi, ramailah orang yang kemudian ingin berinvestasi ke perusahaan tersebut. Dan kebanyakan dari mereka hanya berinvestasi dalam bentuk sertifikat, tanpa melihat bentuk fisiknya. Pada awal perusahaan ini bergerak, seberapa banyakpun sertifikat yang hendak kita cairkan fisik emasnya, perusahaan tidak memiliki kesulitan apapun untuk memberi fisiknya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, para investor sudah tidak lagi mendapatkan apa yang dijanjikan kepada mereka. Semakin banyak investor bergabung dan ingin mencairkan emasnya, semakin kesulitan perusahaan tersebut menanggapinya. Akhirnya  investor mulai marah dan akhirnya diyakini, bahwa perusahaan sebenarnya menggunakan sistem gali lubang tutup lubang dalam menjalankan bisnisnya. Tentunya, dengan janji return yang cukup tinggi, akan ada lubang besar yang tidak mampu ditutupi oleh perusahaan tersebut. Lalu berakhirlah kisah perusahaan ini, dipengadilankan dan saya tidak update lagi mengenai kasus tersebut saat ini.

Jadi, beginilah cara kerja si Charles Ponzi dalam menjalankan usahanya dulu. Menarik investor-investor awal dan membayarnya dengan investor berikutnya. Gali lubang tutup lubang sudah merupakan bahasa yang sangat tepat untuk digunakan. Untuk lebih jelasnya bisa lihat di ilustrasi berikut yang saya kutip dari Wikipedia :

article-2312590-196BB8AA000005DC-740_964x995
Ponzi Scheme source : wikipedia

Agar kedepannya kita tidak terkecoh lagi kepada investasi dengan iming-iming return tinggi, ada beberapa hal yang dapat kita jadikan pedoman:

  • When it is too good to be true, IT IS too good to be true. Jadi kalau ada perusahaan yang datang menawarkan sebuah produk keuangan atau investasi dengan janji return tinggi dalam waktu singkat, dan jika kita mengalami kesulitan dalam menghitung hasilnya dengan menggunakan kalkulator biasa, berhati-hatilah. Pelajari dengan baik dan tanyakan kepada ahlinya, apakah ini merupakan skema bodong yang sama dengan Ponzi Scheme atau tidak.
  • Apakah kita diharuskan merekrut? Jika dalam penawaran yang diberikan, kita diharuskan merekrut beberapa orang untuk mendapatkan return yang dijanjikan, terlebih lagi tanpa menjual produk fisik apapun. Curigalah! Gunakan akal sehat dari mana uang bisa datang hanya dengan merekrut orang lain tanpa melakukan jual dan beli?
  • Riset perusahaan tersebut. Mempelajari ke mana kita akan menginvestasikan uang kita merupakan hal wajib sebelum memutuskan untuk ikut andil dalam bentuk investasi apapun. Apakah perusahaan memiliki jam terbang yang cukup? Apakah perusahaan sudah memiliki laporan keuangan serta pajak yag rapi? Apakah perusahaan pernah terlibat kasus? dll. Jika semua dirasa tidak cukup, kita tidak perlu merasa harus bergegas berinvestasi ke perusahaan tersebut, apalagi karena hendak digelar sebagai pioneer. Lebih baik, cari perusahaan atau usaha kecil yang bergerak di sektor ril dan mampu kita telan resikonya.
  • Yang terakhir dan paling penting, punya kontrol terhadap keuangan dan tujuannya. Memiliki tujuan keuangan yang dapat dirasionalkan dengan jumlah penghasilan yang kita miliki, termasuk salah satu cara mudah mengontrol diri kita untuk tergiur dengan janji return  yang sebenarnya secara matematika keuangan, tidak kita perlukan. Jadi ketika ada tawaran yang menggiurkan ada plan yang bisa kita jadikan bahan acuan, apakah kita mampu berinvestasi sedemikian besar jumlahnya, jika cicilan atau utang saja tiap bulannya masih sulit kita bayarkan? Apakah ada tujuan keuangan kita yang harus dipenuhi dalam rentang waktu tersebut? Apakah tindakan menggandakan uang atau investasi bentuk ini halal di mata agama?

Ponzi Scheme bukan baru sekali terjadi, melainkan justru sudah terlalu sering, dan anehnya masih saja memakan korban. Ingat selalu, “greed will bring you no where, instead it will bring you down” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s