In Course · In Silence

Menilai Perusahaan dari Sebotol Bubuk Cabe

A service culture doesn't happen by accident. The company is always a reflection of the person at the helm. Their attitude, values and commitment to service excellence will drive the actions of others in the organisation. Always has and always will..

~ Mac Anderson ~

Cerita ini berawal dari kunjungan kita ke restoran sushi yang ada di dekat rumah. Tentunya ini bukan kunjungan pertama, tapi sudah kunjungan yang ke sekian kalinya. Tentunya ini bukan bentuk kritisi, tapi dengan tujuan membangun dan membuka mata para pemilik usaha jasa apapun, terutama diri saya sendiri.

Kalau di Indonesia, kita sering mengenal istilah "Pelanggan adalah Raja", ada juga saya pernah dengar motto sebuat perusahaan besar "Put yourself in your client's shoes". Semuanya tentunya bukan sekedar basa-basi. Tapi memang sudah seharusnya menjadi prioritas utama bagi para pemilik usaha jasa atau service.

Kembali ke kisah sebotol bubuk cabe. Setiap kali kami datang ke restoran sushi manapun, kami selalu meminta bubuk cabe sebagai penambah rasa pedas selain wasabi yang disediakan. Begitu juga semalam, simple request ditanggapi dengan "simple attitude". Saat pelayan memberikan botol bubuk cabe dengan isi yang mungkin hanya 1cm dari dasar botol, saya hanya tersenyum. Simple tapi sempat membuat saya sedikit terusik. Banyak pertanyaan terlintas :

  • Apakah restoran kehabisan bubuk cabe, sehingga hanya inilah yang bisa mereka deliver ke customer-nya? Jika memang demikian, artinya, ada pe-er yang harus dikerjakan oleh pengusaha restoran ini. Terlebih lagi ini bukan perusahaan kecil kelas rumahan, melainkan chain besar restoran di Malaysia.
  • Apakah karyawan restoran terlalu sibuk, sehingga tidak punya waktu yang cukup untuk me-refill botol bubuk cabe tersebut? Jika iya, kembali pengusaha harus melihat ulang time management para karyawan. Jangan-jangan load kerja dibandingkan dengan jumlah human resources mereka sudah tidak lagi pada rasio yang sesuai.
  • Apakah memang tidak ada panduan kerja yang mengharuskan semua botol terisi penuh atau setidaknya setengah penuh sebelum disajikan kepada customer? Hal yang terlihat kecil, tapi mampu membuat orang menilai ada sesuatu yang mungkin terlupakan oleh pengusaha restoran tersebut. Jika tidak ada guideline memang tidak akan ada standard yang harus dicapai oleh para karyawan, sehingga menuju customer excellence hanya tinggal mimpi.
  • Yang terakhir.. Apakah guideline sudah jelas, akan tetapi karyawan kurang mendapat training? Karyawan adalah asset perusahaan, mengirim mereka untuk training, merupakan salah satu cara agar perusahaan berhasil mempertahankan atau bahkan lebih maju dari saat ini. Selain training, memastikan karyawan memiliki sense of belonging terhadap perusahaan juga merupakan cara lain. Bagaimana menciptakan sense of belonging tadi? A proper training, motivational talk, definite compensation and benefit, worklife balance campaign,good working environment, dll, akan membuat karyawan merasa nyaman dan menciptakan rasa kepemilikan, sehingga mereka akan selalu memberikan yang terbaik kepada customer.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita yang bergerak di bidang jasa. Terkadang kita luput dari hal-hal kecil, sayangnya hal kecil tersebut bisa membawa ke berbagai penilaian. Untuk saya pribadi, saat ini client lingkungan kerja saya adalah anak-anak didik di sekolah. Masih terus belajar untuk menyajikan yang terbaik untuk mereka, agar kelak memiliki akhlak yang menjadi panutan, kreatif yang terarah dan menjadi anak yang menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s